Mangure Lawik Tradisi Budaya Tradisional di Pesisir Tapteng dan Sibolga

Mangure Lawik, merupakan tradisi budaya nelayan di Tapanuli Tengah, Sibolga dan sekitarnya yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus memanjatkan doa untuk meningkatkan hasil tangkapan, menolak bala, kelestarian laut, dll. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menjalin kebersamaan sesama nelayan.

Tradisi Mangure Lawik biasanya dilaksanakan ketika nelayan akan memulai musim penangkapan ikan.

Di Sibolga dilaksanakan disekitar bulan april, biasanya sekaligus dengan perayaan hari jadi Kota Sibolga. Kegiatan ini juga dikenal dengan jamu laut atau Kenduri laut yang dilaksanakan di kawasan Sibustak-bustak Jalan Mojopahit Aek Habil Kota Sibolga.

Sedangkan di Tapanuli Tengah 9 Januari 2012 pagi akan melaksanakan upacara Mangure Lawik yang dalam istilah lazimnya upacara jamu laut, bertempat di Muara Lubuk Tukko. Menurut Ketua Panitia Upacara Mangure Lawik, Nawardi Panggabean “Tradisi Mangure Lawik ini sekarang sudah mulai punah, padahal tradisi ini cukup bagus, baik untuk promosi pariwisata maupun bagi para nelayan. Dalam hal ini kita tidak melakukan hal-hal yang bersifat sirik, namun kita hanya mengumpulkan masyarakat untuk makan bersama-sama sambil berdoa kepada Tuhan supaya diberi rezeki tangkapan hasil laut secara berlimpah sekaligus dijauhkan dari segala marabahaya,”

Dalam upacara mangure lawik akan disembelih seekor kerbau yang dagingnya akan dimakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat dan para tamu undangan. Sedangkan kepala kerbaunya akan dilarung ke tengah laut seperti tradisi di daerah-daerah pesisir lainnya di Indonesia. Menurut perkataan orangtua terdahulu, kepala kerbau itu merupakan kurban persembahan supaya laut tidak lagi mencari korban dari umat manusia.

Ada pernyataan bahwa tradisi nenek moyang yang sudah ratusan tahun berlangsung turun temurun tersebut selama ini terbukti cukup ampuh memberikan hasil sekaligus keselamatan bagi para nelayan. Nah itulah tradisi dan kepercayaan yang sudah menjadi budaya walau kebenarannya sulit dibuktikan tapi bila sudah menjadi tradisi dan kepercayaan itu akan dianggap benar dan menjadi keharusan. Tapi memang ada benarnya bahwa kita harus mensyukuri berkah dan karunia sumber daya alam yang melimpah dari Tuhan dan mendoakannya agar kita dan kelimpahannya terjaga.

Tradisi budaya seperti ini memang semakin lama semakin terkikis dan jarang dilakukan, padahal budaya seperti ini adalah harta berharga tak ternilai yang kita miliki. Bila tidak terus dilestarikan maka akan hilang begitu saja dan padahal itulah yang salah satu yg membuat Indonesia luar biasa dan dicintai.

 

Referensi :

  • http://pariwisatasibolga.com/main/seni_budaya/mangure_lawik
  • http://www.metrosiantar.com/METRO_TAPANULI/Senin_Nelayan_Lubuk_Tukko_Mangure_Lawik

0 thoughts on “Mangure Lawik Tradisi Budaya Tradisional di Pesisir Tapteng dan Sibolga

Leave a Reply